Sibuk itu Anugerah

Assalamualaikum dan hye hye hye..

Rasanya sudah terlalu lama tidak menulis di blog ini. Sebenarnya penulisan kali ini untuk mengelakkan blog ini bersawang lalu mereput. Awan sayang blog ini... Mengapa? Sebab inilah blog Awan yang kali pertama bertahan sehingga mencecah tahunan umurnya... Bukannya apa... Semenjak bergelar mahasiswa tahun dua di bumi Universiti Sains Malaysia ini... kehidupan sentiasa terkejar-kejar ke sana sini. Urusan mengalahkan Yang Berhormat...!! Yang penting jangan dilupakan tugas hakiki sebagai mahasiswa iaitu belajar! Semua urusan persatuan ini tidak akan menyumbang kepada peningkatan pointer pun...! Tapi kesibukan ini bakal menjadi nilai tambah dalam kehidupan. Pengalaman.. tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama.

Tanggungjawab yang digalas sebagai mahasiswa sememangnya satu ujian yang membentuk kemahiran insaniah dan mematangkan diri yang tidak cukup matang ini.
Sibuk dengan semua meeting dan tugas yang dipikul sebagai salah satu exco dalam persatuan tidak mampu dihitung dengan jari. Tidak dinafikan adakalanya hati terdetik untuk berhenti dan meninggalkan semua kesibukan. Cemburu melihat kawan-kawan lain yang goyang kaki dan berpeluang melakukan aktiviti kegemaran mereka. Entah bila diri ini berpeluang untuk memberi ganjaran kepada hati dan minda sendiri yang terasa semakin nyanyuk melaksanakan tanggungjawab yang digalaskan.
~:: Tapi.. apabila memikirkan ilmu dan pengalaman yang diperoleh daripada kesibukan-kesibukan ini, hati menjadi tawar melepaskan bebanan tugas yang diberikan. Kerana sebenarnya bebanan ini merupakan satu nikmat yang ALLAH berikan yang tidak dinikmati oelh semua mahasiswa (adakah termasuk sering terlewat bangun lalu terlepas kelas pagi??) Tambah-tambah lagi sekarang dah menjadi mahasiswa tahun dua a.k.a senior kepada junior-junior tahun satu.. walau masih bergelar junior kepada senior-senior tahun tiga dan tahun empat. Bersyukur apabila berpeluang berkongsi ilmu yang baru dituai setahun jagung ini dengan junior. Sekurang-kurangnya hati puas melaksanakan tanggungjawab.

Konflik? itu hanyalah satu corak sumbang yang hadir dalam perjalanan hidup ini. Tanpa konflik tidak akan meriah pembelajaran mengenal diri sendiri ini. Tanpa konflik kita tidak akan tahu perkara mana yang patut dielakkan. Sekurang-kurangnya dengan berkonflik... dapatlah kita melepaskan diri daripada kesibukan. Konflik itu dijadikan alasan untuk berhenti? Adakah seperti melarikan diri daripada perperangan? Bukan!! Konflik sebenarnya akan membantu kita untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.. Dengan konflik hati akan jadi galau dan sedar akan kecetekan kuasa dan daya yang dimiliki. Hanya ALLAH yang mampu menangani sebesar manapun konflik di dunia ini. Apa tidaknya... hamba yang diciptakan untuk melaksanakan ibadah-Nya menjadi ingkar. Manusia yang diciptakan agar menjaga kesucian agama-Nya.. malahan tangan-tangan manusia itu juga yang menghancurkan. Bumi yang dahulunya diciptakan dengan cukup indah (SubhanALLAH) tetapi kini dihancurkan dan dihodohkan oleh mereka. Ibarat harapkan pagar..pagar makan padi... Jadi... konflik itu sebenarnya memiliki kebaikan yang perlu diperhalusi. Jangan menganggap konflik itu satu halangan yang bakal menghancurkan setiap usaha yang dilakukan. Anggaplah konflik itu sebagai satu amaran agar kita tidak menjauhkan diri daripada ALLAH.. Status hamba.. kenalah tahu diri..sedar sejauhmana darjat kita yang sepatutnya sebagai peminjam bumi di dunia ini. Insaf dengan status hamba yang sebagai peminjam nyawa dan oksigen untuk meneruskan hidup di dunia pinjaman ini.
 Wallahu Alam...
~:: Alhamdulillah Terima Kasih Ya Allah.
#CekguAwan #eseiPendek #Thanx_sudi_baca

Saat Hilangnya Seorang Bintang Terang

Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW masih ingat akan kita sewaktu sakratul maut.
'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan khutbah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk syurga bersama aku".

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Uthman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, andai mereka mampu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

"Maaf, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?".

"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Malaikat Jibril yang sedang bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua pintu syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Malaikat Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Malaikat Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

"Jangan bimbang, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad yang telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, tiba saatnya Malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan roh Rasulullah ditarik. seluruh tubuh Rasulullah dibasahi peluh dan urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan-lahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat Sang pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.


"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."


Di luar pintu, tangis mulai kedengaran saling bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii!" -
"Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

‘Aisyah ra berkata: ”Maka jatuhlah tangan Rasulullah, dan kepala beliau menjadi berat di atas dadaku, dan sungguh aku telah tahu bahwa beliau telah wafat.”

Dia berkata: ”Aku tidak tahu apa yg harus aku lakukan, tidak ada yg kuperbuat selain keluar dari kamarku menuju masjid, yg disana ada para sahabat, dan kukatakan:

”Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat, Rasulullah telah wafat.”

Maka mengalirlah tangisan di dalam masjid, kerana beratnya khabar tersebut, ‘Saidina Uthman bin Affan seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.

Manakala Saidina Umar bin Al-Khattab berkata: ”Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah meninggal, akan kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk menemui Allah sebagaimana Musa pergi untuk menemui Allah.”

Saidina Abu Bakar pula segera menemui Rasulullah lalu memeluk Baginda dan berkata: ”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.”

Kemudian dia mencium Rasulullah dan berkata: ”Anda mulia dalam hidup dan dalam keadaan mati.”

Keluarlah Abu Bakar ra menemui orang-orang dan berkata: ”Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad sekarang telah wafat, dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah kekal, hidup, dan tidak akan mati.”

‘Aisyah berkata: “Maka akupun keluar dan menangis, aku mencari tempat untuk menyendiri dan aku menangis sendiri.”

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmat Allah manusia yang paling mulia, manusia yang paling kita cintai pada waktu dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat pada usia 63 tahun lebih 4 hari. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi tercinta Rasulullah.

Allahumma shali'alla sayyidina wa mawlana Muhammad....


Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia,
tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak

Beyond the Pages of the Wordsmith : Road To PBAKL 2023

Bismillah... Dengan rendah hati dan penuh iltizam, saya jemput anda semua untuk temankan saya melalui denai-denai menuju #PBAKL2023. . Sebag...